asep_burhanuddin_dSUKSES secara duniawi ternyata bukan segalanya bagi Asep Burhanuddin. Memiliki harta berlimpah, justru membuatnya semakin sadar ada hal-hal yang lebih penting untuk dilakukan, karena hidup hanya sesaat.

“Setelah 15 tahun menggeluti dunia bisnis kargo dan logistik, akhirnya sejak lima tahun lalu saya tutup begitu saja. Konsentrasi saya sekarang membangun masjid dan pesantren,” ujar Asep kepada JPNN di sela-sela pertemuan bertajuk Kopdar Paguyuban Asep Dunia (PAD) Wilayah Jakarta (KOPAJA) di Anjungan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (14/11).

Menurut pria 47 tahun yang baru saja meletakkan jabatannya sebagai Ketua DPW PAD Wilayah Jakarta ini, langkah meninggalkan dunia usaha bukan tanpa sebab.

“Saya kan dulunya kuliah di Al Azhar, Kairo, Mesir dengan tujuan bisa mengembangkan dakwah. Apalagi uyut saya seorang kyai, jadi keluarga terus di bidang keagamaan,” ujarnya.

Namun setelah selesai kuliah, pria 47 tahun ini malah bergelut dengan dunia bisnis. Bahkan berkembang sangat pesat, hingga memiliki cabang setidaknya di lima negara. Antara lain di Kuwait, Mesir, Thailand, dan beberapa negara lain.

“Materi tentu berlimpah, tapi kebahagiaan tak saya dapatkan. Jadi selain karena amanah, saya juga merasa kok usia manusia semakin kemari, semakin berkurang,” ujarnya.

Menurut Asep, kakek uyutnya meninggal di usia 100 tahun. Sementara kakeknya tutup usia 71 tahun dan sang ayah tercinta tutup usia 61 tahun.

“Saya merasa apa yang harus saya lakukan, katakanlah kalau diberi diskon oleh Allah SWT hidup sampai usia 51 tahun, saya isi dengan apa. Sedangkan manusia pasti memiliki kesalahan,” ujarnya.

Dari kesadaran tersebut, pria ini kemudian menutup begitu saja usahanya sejak tahun 2010 lalu.‎ Ia memilih memersiapkan kematian dengan amal yang baik dan memutuskan konsentrasi membangun 20 masjid dan pesantren.

“Pesantren pertama yang saya bangun tahun 2008 lalu di Sukabumi. Berdiri di atas lahan 3,5 hektar dengan biaya Rp 8 miliar. Sekarang totalnya sudah terbangun 16 masjid dan pesantren. Baik itu di Sukabumi, Cianjur dan Bogor,” ujar Asep.

Selain itu, pria ini mengaku bersedia menjabat Ketua DPW PAD Jakarta, juga didasari keinginan untuk membantu sesama. Hingga kemudian meletakkan jabatan tersebut karena diminta Presiden PAD Asep Kambali, untuk menjabat Menteri Luar Negeri PAD.

‎”Motivasi saya membantu sebanyak mungkin Asep menjadi orang yang berhasil. Sya siap membagi ilmu yang saya dapat. Saya akan kembalikan amal jariyah. Pengalaman akan saya bagi jatuh bangun perusahaan. Akses juga akan saya bagi, harta yang ada saya bagi,” ujarnya.

Asep mengaku bukan karena dirinya tidak cinta harta, sehingga meninggalkan dunia usaha. Namun karena cinta dan kehidupan di akhirat yang lebih baik, ia melakukan itu semua.

“Sekarang saya titipkan ke panti-panti jompo, pesantren, nanti di akhirat saya ambil lagi,” ujar Asep. (gir/jpnn)

Sumber : http://jpnn.com/read/2015/11/14/338589/Asep-yang-Satu-Ini-Hartanya-Melimpah-tapi-Putuskan-Tutup-Usaha,-kok-Bisa?-

Categories: Berita PAD

asep saeful milah · March 13, 2016 at 8:23 pm

Motivasi buat saya kang,,,,aya sdng bingung bgmna carnya memiliki penghasilan. Bingung krna ketdktahuan saya, bingung karna poekeun obor kudu kumha. Nyuhunkeun dibagi tina elmuna. Hturnuhn pisan kang

Leave a Reply to asep saeful milah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *