JAKARTA, KOMPAS – Kang Asep, kan?” kata Asep Saepudin, Ketua Panitia Kopaja (Kopi Darat Paguyuban Asep Dunia Wilayah Jakarta), kepada seorang pria yang baru tiba di Anjungan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (14/11).

Yang ditanya mengangguk dan mengenalkan diri sebagai Asep Saepudin. “Tuh, kan, Asep Saepudin lagi, pasaran banget namanya,” kata Asep Saepudin, pegawai TMII, disambut tawa para lelaki bernama Asep.

Di acara Kopaja yang dihadiri lebih dari 20 orang Asep itu, ada tiga orang yang bernama Asep Saepudin.

Dalam daftar hadir, setiap orang menuliskan nama lengkap. Sementara di kolom nama panggilan, tak pelak lagi semua hadirin menulis: Asep.

“Makanya, kalau manggil saya Asep Cepi,” kata Asep Saepudin, Ketua Panitia Kopaja. Asep Saepudin yang lain dipanggil Asep Humas sesuai pekerjaannya di TMII.

Ditemani kudapan kacang, pisang, singkong rebus, buras alias arem-arem, dan kopi, teh, serta air putih, dibukalah Kopaja yang merupakan tindak lanjut Konperensi Asep-Asep atau “KAA” sekaligus merayakan Hari Pahlawan.

Sebelumnya, “KAA” lebih dulu digelar di Bandung, ibu kota Asep sedunia, 25 Oktober lalu, dan dihadiri hampir 600 orang bernama Asep.

Kopaja, menurut Ketua Paguyuban Asep Dunia (PAD) DKI Jakarta Asep Burhanuddin, diadakan untuk membahas kepengurusan, program kerja, dan sosialisasi anggaran dasar/anggaran rumah tangga PAD yang dulu bernama Paguyuban Asep (PA).

PAD lahir dari rahim jejaring sosial Facebook pada 2008 dan digagas oleh Asep Iwan Gunawan lewat grup “How Many Asep There Are in Facebook?”.

Pada Agustus 2010, PA dikukuhkan sebagai komunitas resmi dan berganti nama menjadi PAD.

Selanjutnya, “KAA” pun digelar dengan membawa inspirasi Konferensi Asia Afrika (KAA yang asli) yang membawa perubahan dalam kehidupan dunia.

Nah, para Asep punya mimpi besar ingin turut mengubah dunia lewat aksi positif.

Nama Asep sendiri adalah produk asli peradaban Sunda. Asep diyakini lahir dari kata kasep dalam bahasa Sunda yang berarti tampan atau ganteng.

Asep pun punya turunan kata nama lain, seperti Usep, Uncep, Atep, Acep, Cecep, Encep yang juga berarti sama.

Sayang, lanjut anggota Dewan Pembina PAD, Marsekal Pertama Asep Chaerudin, masih banyak Asep yang minder.

Penyebabnya, katanya, mungkin terkait kondisi banyak Asep yang merasa tak mendapat posisi terhormat dalam kehidupan.

Padahal, Asep menghiasi seluruh strata sosial dan profesi. Ada Asep penjual bakso, pemangkas rambut, petugas kebersihan, buruh tani, tetapi ada juga yang menjadi pengusaha, pejabat tinggi, petinggi polisi, perwira militer, jaksa, hakim, bahkan guru besar.

Di grup Facebook tersebut, tercatat lebih dari 3.000 orang yang bergabung. Yang mendaftar resmi ke PAD tingkat provinsi hampir 600 orang.

Sekretariat PAD tingkat provinsi sudah ada di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Gerakan ini bukan main-main lagi, tetapi sudah bukan main.

Sekretaris PAD DKI Jakarta Asep Rochman mengungkapkan sudah sejak 2012 melaksanakan program Kurban Asep untuk Warga (Kurawa).

Ada juga Asep Rescue Terjun ke Bencana (Arjuna), Bantuan Darurat Keur Asep Jeung Baraya (Badranaya), dan Pendidikan dari Asep untuk Warga (Pandawa).

Inilah mungkin bukti pengejawantahan moto kemanusiaan PAD yang Ti Asep, Ku Asep, Keur Indonesia (dari Asep, oleh Asep, untuk Indonesia).

PAD menambah panjang daftar paguyuban bernama sama, yakni Budi, Agung, Sugeng, Bambang, dan Endang, bukti bangsa kita kreatif dan jenaka.

Tahun depan, PAD berambisi menggelar “KAA” yang dihadiri lebih dari 1.000 Asep. Bahkan, kalau bisa, acaranya di Gedung KAA. Maju terus, Asep…! (AMBROSIUS HARTO)

Artikel ini sebelumnya ditayangkan di harian Kompas edisi Minggu, 15 November 2015, dengan judul “Dari Asep, oleh Asep, untuk Indonesia“.

Categories: Berita PAD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *